• Sabtu, 4 Desember 2021

Eman, Pemkab Belum Perhatikan Kelengkapan Fasilitas Primer Puncak Megasari Bondowoso

- Jumat, 13 Agustus 2021 | 20:13 WIB
Puncak Megasari Bondowoso
Puncak Megasari Bondowoso

KABAR RAKYAT, Bondowoso - Banyak wisata alam di Bondowoso berbatasan dengen Banyuwangi, Jember dan Situbondo masih belum dilengkapi fasilitas primer. Salah satunya wisata alam Puncak Megasari.

Bahkan wartawan Kabar Rakyat M. Kava Zulfikri bersama sejumlah mahasiswa UNEJ menyempatkan menikmati segarnya udara dan pemandangan yang indah, anugerah yang luar biasa.

Dikutip Kabar Rakyat melalui Suara Indonesia, perhutani melalui Kepala KPH Bondowoso Andi Adrian Hidayat yang mengatakan, "Potensi wisata Bondowoso banyak. Ada kawah wurung, (air terjun) Tancak Kembar, Pendakian Gunung Piramid, Potre Koneng, Puncak Megasari, Kawah Ijen, dan Gua Buto".

Tujuh destinasi wisata tersebut di lahan yang dikelola oleh Perhutani dan menjadi fokus pengelolaan Ijen Geopark. Beberapa lalu, sebagian mahasiswa dari kampus yang ada di Jember mengaku ingin melihat bagaimana kondisi Megasari di saat pandemi.

Baca Juga: KM UNAIR Banyuwangi Audiensi dengan Bupati Perihal Pembangunan Kampus

Ungkap salah satu rombongan itu, Lisa Aprilia, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jember, "Sekelas tempat wisata yang pengunjungnya perhari bisa lebih dari 50 orang itu sudah harus ada fasilitas yg mumpuni", Jum'at (13/08/21).

Apalagi mengenai fasilitas air, WC dan kamar mandi tidak ada, ungkapnya dengan jujur. Imbuhnya, Padahal kalo kita liat, Megasari itu kan objek wisata yang mengharuskan orang untuk nge-champ, tidak mungkin orang ke megasari cuma satu jam, tutur Lisa.

"Nah seharusnya pemerintah setempat menyesuaikan supaya mengadakan fasilitas. Soalnya, kita ini negara mayoritas islam, terlebih di Bondowoso itu kan islami bangetkan," ungkap Lisa.

Baca Juga: Ketika Abramovich Berikhtiar dan Bermuhasabah

Atas pertimbangan itu imbuh Lisa, jelas pengunjung megasari kebanyakan juga orang muslim yang memiliki kewjiban untuk beribadah untuk sholat Jadi eman sih untuk fasilitas air, km, dan wc itu tidak ada, karena itu perlu banget, kritiknya.

Selain itu, ujar Lisa kalo di lihat tempat itu jauh dari perkampungan, sehingga fasilitas terkait itu harus segera diadakan. "Pun jika tidak segera diadakan itu akan berpengaruh terhadap kotornya bukit Megasari", tandasnya melalui sambungan seluler.

Coba bayangkan juga kata Lisa dengan tertawa, pengunjung yang mau pipis atau buang air besar hayo gimana dan kemana? Memang bener, untuk bebersih diri bisa bawa air dari rumah.

"Kemudian hasil dari BAB-nya itu gimana? kan ya pasti dibiarin gitu aja, dan itu bisa pasti berpotensi mengotori lingkungan", jelasnya.

Baca Juga: Deden Buronan Kriminal Pembunuhan Kabur ke Gunung Salak Bogor

Tekannya lagi, eman banget sih, untuk tempat seindah itu kalo ndak dibarengi dengan fasilitas yang baik, tentu akan berpengaruh pada jumlah pengunjung yg datang. Harapnya,"Megasari di bangun fasilitas yang memadai, kemudian setiap pengunjung dikenakan tarif semisal 5k per orang".

Sebab itu akan menambah pendapatan kabupaten dari bidang pariwisata, tutur warga Banyuwangi itu. Jika satu hari di Megasari Kata Lisa, ada 50 orang pendaki dikali 5 ribu saja tiap hari ada pemasukan 250 perhari.

Senada juga di ungkapkan oleh Anisyia Nurul Islamy, Mahasiswa Asal Banyuwangi yang juga ngaku ingin melihat potensi Megasari. Jum'at (13/08/21). Setelah ia tahu Megasari bersama rekannya pada Minggu 7-8 Agustus 2021 lalu.

"Puncak Megasari seharusnya diberi fasilitas air bersih karena akses dari kamar mandi umum dan rumah masyarakat cukup jauh sehingga menyulitkan para pengunjung", ujarnya usai melihat kondisi Megasari.

Baca Juga: Viral, Pemuda Mabuk Serang Anggota TNI di Semenep saat Razia PPKM

"Amat disayangkan bukit megasari cukup marak pengunjung seharusnya pemerintah daerah mampu melihat ini sebagai peluang pariwisata," ungkapnya.

Salah satu potensi itu menurut Anisyia adalah menerapkan tiket masuk untuk biaya pembangunan kamar mandi umum dan fasilitas kebersihan seperti tempat sampah.

"Hal lainnya masyarakat bisa dilibatkan menjadi penjaga dan pengawas bukit megasari demi mencegah perusakan alam maupun hal-hal amoral", ungkapnya.

Selain itu, tambahnya, akses jalan yang tidak terlalu baik tanpa penerangan menjadi sorotan serius sebab menjadi faktor kemungkinan adanya kecelakaan wisatawan.

Sedangkan harap Badrut Tamam, Mahasiswa yang juga sedang kepo tentang kondisi Megasari di Masa Pandemi, "kepada pemerintah daerah supaya melancarkan air ke tempat wisata puncak megasari tepatnya. Jum'at (13/08/21), Melalui sambungan seluler. Sebab saya rasa wisata tersebut cukup bagus untuk dinikmati," pungkasnya.***

Halaman:

Editor: Richard De Mas Nre

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X