• Senin, 17 Januari 2022

Kesadaran Baru Ketua MUI Jember, Berbuat Baiklah Kepada Siapapun: Seru KH. Abdul Haris

- Senin, 26 Juli 2021 | 09:31 WIB
KH. Abdul Haris Pengasuh Ponpes Albidayah, Tegalbesar Kaliwates Jember
KH. Abdul Haris Pengasuh Ponpes Albidayah, Tegalbesar Kaliwates Jember

KABAR RAKYAT, RELIGI - Sudah lumrah menjumpai, ada manusia cenderung hanya berbuat baik kepada mereka yang baik kepadanya, dan manusia enggan pula berbuat baik kepada mereka yang jahat.

Maknanya, perbuatan baik dibalas baik, dan jahat dibalas jahat. Akan tetapi, juga memungkinkan ada seseorang yang berbuat baik kepada mereka yang jahat kepadanya, dan sebaliknya.

Menanggapi fenomena demikian, KH. Abdul Haris, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jember, mengingatkan kepada para santri untuk berbuat baik maksimal kepada siapapun.

"Berbuat baiklah maksimal," ajak KH. Abdul Haris yang lebih suka disapa ustadz oleh santri-santrinya.

“Tidak usah berfikir orang lain untuk berbuat baik kepada panjenengan atau kepada kita,” terang Pengasuh Pondok Pesantren Albidayah, Tegalbesar Kaliwates Jember.

Kata Kiai Haris, "yang penting kita maksimal. Baik itu sebagai seorang suami, seorang anak, sebagai seorang bapak".

Terusnya lagi, “upayakanlah semaksimal mungkin anda berbuat baik dan janganlah kemudian harus ada balasan atau imbalan.”

"Tapi insyaallah seandainya yang kita hadapi adalah normal, orang pada umumnya, ketika kita maksimal berbuat baik nanti akan dibalas yang baik", ajak Kiai Haris di acara Ultah ke-50.

Ia mengungkapkan bahwa tersebut adalah kesadaran barunya. "Jadi kita tidak usah menuntut orang lain berbuat baik kepada kita", tandasnya.

“Jadi tuntutlah diri kita, kuasa diri kita, kita tidak bisa menuntut orang lain untuk orang lain berbuat baik kepada kita,” ungkapnya.

Baca Juga: Bupati Hendy Siapkan Hotel Kebon Agung dan Gedung JSG untuk Isoman

Tegasnya lagi, “yang bisa kita tuntut adalah diri kita untuk memaksimalkan perbuatan baik”.

"Kepada bapak kita ibu kita, Kepada anak kita, istri kita dan seterusnya", jelasnya didepan rumahnya.

“Pokoknya berbuat baik,” tegasnya berkali-kali berpesan dihadapan santrinya.

Paparnya, "Jangan kemudian kita tersinggung. Ternyata balasannya kurang baik,” lanjutnya.

"Tidak usah tersinggung", tegansya lagi .

“Ini memang membutuhkan kesadaran yang tinggi, tapi dalam kehidupan menurut saya adalah orang yang ketika diperlakukan kurang baik, itu balasannya baik,” ujar mantan Dekan Fakultas Usuludin Universitas Islam Negeri KH. Achmad Shiddiq.

“Kalau seandainya orang baik kemudian dibalas dengan baik itu biasa,” terangnya dengan serius.

"Bukan spesial", tegasnya lagi.

Tambahnya lagi, itu adalah kesadaran baru saya.

"Jika ini diterapkan di kehidupan kita, insyaallah istri kita akan berbuat baik maksimal kepada kita, anak kita berbuat maksimal kepada kita, lingkungan kita akan maksimal berbuat baik kepada kita, dan orang orang yang berada disekeliling kita, itu akan berbuat baik maksimal kepada kita, ketika kita mampu memaksimalkan diri kita sendiri untuk maksimal berbuat baik", terangnya dengan jelas.

“Kadang kita sibuk menuntut orang lain, tidak sibuk menuntut diri kita,” ucap ustadz Haris setelah melihat fenomena kehidupan saat ini.

Baca Juga: Operasional Kereta Api di London Bertekuk Lutut Lumpuh Akibat 300 Stafnya Harus Isolasi

Tanya kepada Istri, anak, dan santrinya, "Kenapa ya orang itu tidak mau berterimakasih kepada kita? Padahal saya sudah melakukan ini, padahal sudah melakukan ini, padahal sudah melakukan ini".

“Jadi yang dituntut itu orang lain, padahal dia itu tidak bisa menguasainya,” tegas Kiai yang pernah ngaji dibawah asuhan KH. Masduki Mahfudz, di Malang semasa kuliah sarjana (S1).

“Coba itu direnungkan,” pinta KH. Abdul Haris, akrab disapa Kiai Haris.

Paparnya, "Anak kita itu orang lain dari kita".

Sebab ia punya pikiran sendiri, punya keinginan sendiri pun orang lain diluar diri kita, terang Kiai yang sekaligus Anggota Aswaja Center Jember itu.

"Bisa jadi yang kita tuntut ya ikut bisa kepada kita, dan bisa jadi tidak", ungkapnya.

Tapi sekali lagi, “yang mampu kita tundukkan dan kita kuasai adalah diri kita sendiri,” imbuh Kiai yang dikenal sangat menjunjung tinggi kejujuran itu.

Baca Juga: Sepi Pembeli, Hendy Borong Makanan di Kedai Bambu

Ajaknya kepada Santri, Sebagai seorang suami, Panjenengan-panjenengan harus berbuat baik kepada istri panjenengan.

Bagi seorang anak harus berbuat baik maksimal kepada orang tuanya, Apakah kemudian orang tua membalasnya atau tidak itu jangan dijadikan perhitungan," katanya dengan tegas.

Jangan berfikiran, orang tua saya tidak berbuat baik kenapa saya berbuat baik, terangnya lagi.

Sebagai seorang murid berbuat baiklah apakah Panjenengan-panjenengan di balas baik atau tidak, pokok berbuat baiklah, tandasnya.

Itulah kesadaran baru saya yang kini, saya juga berusaha untuk menundukkan diri saya sendiri, pungkasnya.***

Sumber YouTube Metode Al Bidayah, berjudul : Selamatan Tumpengan Milad Ke-50 Pengasuh Ponpes Al Bidayah Jember - Dr. KH. Abdul haris, M.Ag (klik disini)

Halaman:
1
2
3
4

Editor: Choiri Kurnianto

Sumber: YouTube

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Berbagai Doa Bulan Rabiul Awal Berikut Manfaatnya

Senin, 11 Oktober 2021 | 08:13 WIB
X