• Sabtu, 18 September 2021

Pendidikan hanya untuk Borjuis-kah?

- Minggu, 3 Juni 2018 | 17:32 WIB
Education copy
Education copy

Oleh : Farah Nabilah


Apakah sekolah gratis benar adanya ??? Atau hanya menjadi jargon bagi para calon penguasa yang mengincar kekuasan semata. Realitanya saat ini Pendidikan gratis untuk rakyat miskin rupanya hanya jadi mimpi saja. Banyak anak miskin yang hanya dapat mengisap jempol melihat si borjuis belajar. Seperti yang kita tau pada era ini tidak ada yang gratis di dunia ini pergi ke toilet umum saja perlu biaya apalagi pendidikan, soal jargon sekolah gratis itu sepertinya hanya menjadi formalitas belaka nyatanya sekolah itu perlu biaya. Para orang tua yang kurang pendidikan dan memiliki keterbatasan biaya pasti pikir ulang untuk menyekolahkan anaknya. Mereka para orangtua si anak miskin biasnya hanya mementingkan kepentingan perutnya, bagi mereka hanya bisa makan saja sudah menjadi nikmat yang luar biasa. Pendidikan si anak miskin hanya menjadi kepentingan nomer terakhir bagi para orangtua. Pola pikir ini akan terus tertanam di benak para orangtua si miskin karena kurangnya edukasi pentingnya pendidikan bagi investasi masa depan. Berbeda dengan orangtua borjuis yang pastinya telah mengetahui investasi pendidikan si anak sangat penting.

Setiap anak yang terlahir di dunia ini pada hakikatnya merupakan benih-benih harapan yang akan menjadi aset pengubah masa depan bangsa Indonesia di kemudian hari. Sayangnya benih harapan ini terancam mati akibat pola pikir yang akan terus mengakar dan  tertanam di benak para orangtua si miskin, Karena pola pikir yang sempit ini akan merusak aset bangsa kita. Miris sekali benih harapan terbuang percuma. Coba kita berfikir bisa kembali bila anak miskin yang tidak dapat mengenyam pendidikan memiliki potensi yang luar biasa untuk masa depan yang lebih baik untuk dirinya sendiri dan orang lain. Potensi yang bahkan tidak ada dalam benak para borjuis yang dapat mengubah bangsa Indonesia menjadi negar maju. Sayang sekali bukan bila potensi yang luar biasa harus terpendam begitu saja lantaran masalah biaya. Bila begini terus bagaimana masa depan bangsa Indonesia nanti. Apakah di masa depan nanti masih ada bangsa Indonesia bila pendidkan di Indonesia terus begini. Bagaimana mana Indonesia bisa menghilangkan gelar negara berkembang dengan keadaan pendidikan yang seperti ini.

Pendidikan di Indonesia saat ini kedudukannya sama dengan hukum di Indonesia meruncing ke bawah tumpul ke atas. Di hukum keadilan hanya berpihak kepada orang kaya begitupula  Di dunia Pendidikan, pendidikan  hanya untuk orang yang memiliki tekat dan tentunya yang ber-uang. Apalah daya dari anak yang terlahir miskin hanya memiliki tekat dan tidak punya modal.  Tidak banyak dari mereka dengan alasan  biaya semangat untuk mengenyam bangku pendidikan menjadi menciut dan pada akhirnya membuat si miskin hanya pasrah dengan keadaan. Para borjuis pun tidak jarang menyia-nyiakan pendidikan yang dapat para borjuis dapatkan dengan begitu mudah. Kalau begini siapa yang harus disalahkan. Tidak punya uang punya tekat, punya uang tekat kurang. Apa mungkin ini kesalahan dari sistem pendidikan yang ada di Indonesia atau mungkin kesalahan dari pendidikan orangtua atau bahkan mungkin kesalahan dari si anak sendiri.

Saat ini rasanya semua keadaan hanya berpihak pada borjuis termasuk pendidikan yang seharusnya menjadi hak untuk setiap warga negara. Ruang lingkup pendidikan terlihat hanya berpihak kepada mereka yang memiliki uang. Memang tidak semua seperti itu tapi kebanyakan yang terjadi di Indonesia anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu sulit mendapatkan kesempatan mengenyam bangku sekolah.  Seperti yang kita lihat di daerah terpencil banyak anak yang susah payah untuk memperoleh pendidikan karena keterbatasann biaya pendidikan. Bangunan sekolah yang nyaman dan megah dengan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai hanya seperti mimipi bagi mereka. Selain itu juga akses menuju sekolah sangatlah sulit ditempuh. Hal ini juga yang membuat para orangtua enggan untuk menyekolahkan si anak lantaran rasa cemas yang hadir pada orang tua saat si anak menuju sekolah.

Pendidikan di Indonesia saat ini menjadi kekawatiran di masa depan bangsa kita nanti, karena buah dari pendidikan merupakan investasi masa depan Indonesia yang seharusnya dapat mencetak generasi yang unggul. Seperti yang soekarano  katakan “ Beri aku 10 pemuda, Maka akan aku guncangkan dunia”. Dari generasi muda ini lah Indonesia yang sejahtera ada di tangan mereka para generasi muda. Namun pola pikir dan segala keterbatasan yang menjadi penghambat generasi muda Indonesia untuk bermetamorfosis menjadi generasi yang unggul. semoga di masa depan nanti di antara kita generasi produktif dapat merubah kekwatiran bangsa ini menjadi semangat dan merubah nasib bangsa Indonesia menjadi lebih baik lagi dari  sebelumnya. * (penulis adalah pemerhati pendidikan di Situbondo)

Baca juga : Alumni Uniba Prihatin Kampus Diobok-obok ‘Preman’

Editor: REDAKSI

Tags

Terkini

Jawa Timur Masuk Level 1 Assessmen Pertama Indonesia

Sabtu, 18 September 2021 | 15:21 WIB

Menjaga Imunitas Tubuh Saat Musim Hujan

Sabtu, 18 September 2021 | 08:41 WIB

BEM UNIBA Gandeng Polresta Gelar Vaksinasi Mahasiswa

Jumat, 17 September 2021 | 05:10 WIB

Pemkab Fasilitasi MUI Jember Gedung Sekretariat

Kamis, 16 September 2021 | 16:23 WIB
X