Mengenal Tedhak Siten Tradisi Turun Tanah dalam Adat Jawa, Lengkap dengan Rangkaian Prosesi Adat

- Senin, 26 September 2022 | 19:22 WIB
Ilustrasi: Buah hati Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah, yakni Ameena Hanna Nur Atta saat menginjak jadah dalam tradisi tedhak siten. (dok. Instagram @attahalilintar)
Ilustrasi: Buah hati Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah, yakni Ameena Hanna Nur Atta saat menginjak jadah dalam tradisi tedhak siten. (dok. Instagram @attahalilintar)

KABAR RAKYAT – Tedhak Siten atau Turun Tanah adalah rangkaian prosesi adat menapak tanah pertama seorang anak dalam masyarakat Jawa.

Bagi masyarakat Jawa pasti sudah tidak asing dengan istilah Tedhak Siten atau Turun Tanah. Pasalnya setiap bayi sebelum Turun Tanah akan melakukan prosesi adat ini.

Tedhak Siten atau Turun Tanah memiliki rangkaian prosesi acara adat yang harus dilakukan seorang anak.

Tedhak Siten berasal dari kata Tedhak berarti turun (menapakkan kaki) dan Siten atau Siti yang artinya tanah, sehingga Tedhak Siten merupakan tradisi menginjakkan atau menapakkan kaki ke tanah bagi seorang anak untuk pertama kali.

Baca Juga: Jelang Musim Tanam, Petani Banyuwangi Dapat Tambahan 26.000 Ton Pupuk Subsidi

Menurut Murniatmo, Tedhak Siten merupakan  upacara pada saat anak Turun Tanah untuk pertama kali, atau disebut juga mudhun lemah atau unduhan, masyarakat beranggapan bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib.

upacara Tedhak Siten berlangsung saat anak berusia 7 lapan kalendar Jawa atau 8 bulan kalender masehi.

Usia tersebut biasanya seorang anak dalam masa belajar berjalan sehingga inilah momen awal anak mulai menapakkan kakinya ke tanah.

tradisi Tedhak Siten atau Turun Tanah merupakan serangkaian kegiatan yang menyimbolkan bimbingan orang tua kepada anaknya dalam meniti kehidupan melalui serangkaian prosesi dan ubarampe yang dilaksanakan.

Selain makna tersebut, pelaksanaan Tedhak Siten juga termasuk dalam pelestarian budaya Jawa agar selalu lestari.

Dalam kegiatan Tedhak Siten perlu dipersiapkan Uba Rampe atau perlengkapan, di antaranya yaitu, jadah 7 (Tujuh) warna warni, tangga yang terbuat dari tebu, kurungan (biasanya berbentuk seperti kurungan ayam) yang diisi dengan barang/benda, alat tulis, mainan dalam berbagai bentuk, air untuk membasuh dan memandikan anak, ayam panggang, pisang raja, udhik-udhik, jajan pasar, berbagai jenis jenang-jenangan, tumpeng lengkap dengan gudangan dan nasi kuning.

Tedhak Siten memiliki serangkaian proses tradisi yang perlu dilakukan seperti yang telah dilansir Kabar Rakyat dari Dinas Kebudayaan Yogyakarta yakni:

Baca Juga: DPRD Banyuwangi Gelar Paripurna Penyampaian Nota Keuangan Raperda Tentang Perubahan APBD 2022

-Membersihkan kaki

Halaman:

Editor: Mifta Sonia

Sumber: Dinas Kebudayaan Yogyakarta

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X