• Jumat, 27 Mei 2022

BPOM Resmi Setujui 5 Vaksin Covid-19 Sebagai Booster

- Selasa, 18 Januari 2022 | 19:13 WIB
Kepala Badan POM RI,Penny K.Lukito saat konferensu pers/pom.go.id
Kepala Badan POM RI,Penny K.Lukito saat konferensu pers/pom.go.id

KABAR RAKYAT - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara resmi memberikan persetujuan pada 5 (lima) Vaksin COVID-19 yang dapat digunakan sebagai booster atau dosis lanjutan homolog (vaksin booster sama dengan vaksin primer) dan heterolog (vaksin booster berbeda dengan vaksin primer).

Kelima vaksin tersebut adalah CoronaVac atau Vaksin COVID-19 Bio Farma, Comirnaty oleh Pfizer, AstraZeneca (Vaxzevria dan Kconecavac), Moderna, dan Zifivax.

“Persetujuan vaksin booster tersebut didasarkan pada data imunogenisitas dari hasil pengamatan uji klinik terkini yang menunjukan adanya penurunan kadar antibodi yang signifikan terjadi setelah 6 bulan pemberian vaksin primer.” Ungkap Kepala Badan POM, Penny K. Lukito dalam Konferensi Pers Vaksin COVID-19 Booster seperti dikutip Kabar Rakyat dari pom.go.id, Selasa 18 Januari 2022.

Baca Juga: Investasi Fisik Emas Digital di Era Millenial, Kemendag: Bursa Berjangka Dimulai, Begini Penjelasannya

Penny K.Lukito menjelaskan, di Indonesia sendiri, program vaksinasi sudah dilakukan sejak Januari 2021, sehingga diperlukan pemberian vaksinasi booster untuk mempertahankan imunogenisitas vaksin terhadap infeksi COVID-19.

Kemudian sesuai dengan rekomendasi WHO, pemberian vaksin booster/dosis lanjutan yang akan dirancang oleh pemerintah dengan pemberian yang diutamakan untuk populasi yang berisiko tinggi yaitu lansia, tenaga kesehatan, dan kelompok individu yang memiliki masalah system imun/kekebalan.

Baca Juga: Wakil Ketua DPR RI, A.Muhaimin Iskandar Tegaskan Akses Kepemilikan Rumah Harus Dipermudah

Penny K.Lukito menambahkan, Badan POM sejak bulan November 2021 juga telah melakukan pengkajian keamanan dan khasiat terhadap beberapa vaksin COVID-19 yang berpotensi menjadi vaksin booster.

 “Pengkajian tersebut dilakukan pada vaksin yang telah memperoleh Emergency Use Authorization atau EUA sebagai vaksin primer, untuk kemudian dievaluasi sebagai dosis booster/lanjutan berdasarkan data-data hasil uji klinik terbaru yang mendukung, “ pungkasnya.***

Halaman:

Editor: Hariyadi

Sumber: pom.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X