• Selasa, 30 November 2021

Update Gempa di Banyubiru, Ambarawa, dan Salatiga, Tenda Darurat Mulai Didirikan

- Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:42 WIB
Ilustrasi Update Gempa di Banyubiru, Ambarawa, dan Salatiga, Tenda Darurat Mulai Didirikan (Foto: Tumisu/Pixabay)
Ilustrasi Update Gempa di Banyubiru, Ambarawa, dan Salatiga, Tenda Darurat Mulai Didirikan (Foto: Tumisu/Pixabay)
KABAR RAKYAT – Gempa Bumi yang terjadi di wilayah Banyubiru, Ambarawa dan Salatiga Jawa Tengah yang awalnya terjadi pada 23 Oktober 2021 dini hari, hingga kini terus terjadi gempa susulan. 
 
Meski magnitudonya kecil, namun hingga Minggu 24 Oktober 2021, beberapa gempa susulan masih dirasakan warga. Relawan dan BPBD pun meluai mendirikan tenda darurat di beberapa lokasi untuk mengantiasipasi kejadian yang lebih buruk.
 
Dilansir Kabar Rakyat dari Twitter @DaryonoBMKG, pada Minggu 24 Oktober masih terjadi rentetan gempa yang dirasakan di Banyibiru dan Ambarawa. Rentetan gempa tersebut mencirikan karakter aktifitas gempa Swarm.
 
“Sejak pukul 05.57 WIB 4 rentetan gempa dirasakan mengguncang Banyubiru dan Ambarawa dengan magnitudo 3,4 2,3 2,3 dan 2,2. Inilah karakter gempa Swarm,” tulis pemilik akun twitter @DaryonoBMKG, Daryono yang menjabat sebagai Kepala BIdang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG.
 
Dalam cuitan twitnya, Daryono menyebut aktifitas gempa Swarm jarang terjadi. Masyarakat tidak perlu resah. Andaipun terjadi maka kekuatan gempa Swarm tidak signifikan untuk merusak bangunan rumah dan lain-lain.
 
Aktifitas gempa Swarm memang jarang terjadi, jika kekuatan gempa Swarm bcukup signifikan dan guncangannya sering dirasakan memang dapat meresahkan masyarakat. Namun sebenarnya tidak membahayakan jika bangunan rumah di zona swarm tersebut memiliki struktur yang kuat,” urai Daryono.
 
Dalam cuitan lain, Daryono menyebut kekuatan magnitude gampa Swarma relative kecil, kurang dari magnitude 4,0.
 
“Rentetan aktifitas gempa Banyubiru, Ambarawa dan Salatiga saat inin layak disebut Swarm karena gempa yang terjadi sangat banyak tetapi tidak ada gempa yang magnitudonya menonjol sebagai gempa utama. Selain itu memang rata-rata magnitude gempa relative kecil, yaitu kurang dari Magnitudo 4,0,” ujar Daryono lagi.
Namun Daryono juga mengungkap sejarah bahwa sejarah gempa di Banyubiru, Ambarawa dan Ungaran pernah terjadi pada tahun 1865. Pada saat itu guncangan gempa diikuti dengan gemuruh. Pada kejadin itu dilaporkan banyak tembok rumah yang rusak.
 
“Gempa Semarang, Ungaran, Banyubiru dan Ambarawa terjadi pada 22 oktober 1865 pukul 09.16 WIB. Pada keesokan harinya pada 23 Oktober 1865 pukul 02.45 guncangan gempa kembali terjadi yang diikuti oleh gemuruh,” tulis Daryono.
“Gempa Banyubiru, Ambarawa dan Ungaran 17 Juli 1865 menyebabkan banyak rumah tembok rusak,” tulisnya Daryono lagi.
 
Sementara itu BPBD Semarang membuka layanan 24 jam gratis bagi masyarakat yang membutuhkan layanan jika terjadi musibah atau bencana akibat dari aktifitas gempa tersebut. Bahkan relawan dan BPBD sudah mendirikan tenda darurat di beberapa lokasi.
 
“Siap pak, rekan-rekan relawan kelir, bersama BPBD sudah mendirikan tenda darurat di desa Sirep, guna penanggulanagn kejadian gempa Ambarawa, dan jika dibutuhkan bantuan untuk pertolongan dan penyelamatan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di wilayah Kabupaten semarang, gratis,” tulis akun Twitter @ajardpambudi yang membalas cuitan Daryono.***

Editor: Ayu Nida

Sumber: Twitter @DaryonoBMKG

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X