Deadline Day, Bagian Lain Dari Kepanikan Di Sepakbola

- Jumat, 3 September 2021 | 06:29 WIB
Sastra Dinata (Koleksi Pribadi)
Sastra Dinata (Koleksi Pribadi)

Oleh: Sastra Dinata*

KABAR RAKYAT - Bagi seorang pelajar atau mahasiswa, istilah “deadline” sudah menjadi hal yang sangat akrab bagi kehidupan mereka. Bagaimana tidak, PR yang diberikan guru di sekolah atau tugas yang diberikan di kampus semulanya memang diberikan jauh hari tapi dengan penuh optimisme dan jiwa “santuy” nya terkadang pelajar atau mahasiswa sering kali mengulur waktu untuk mengerjakannya alasannya “masih ada waktu buat ngerjain besok”. Alasan yang mencerminkan bahwa budaya “santuy” telah mandarah daging. 

Namun bukan deadline namanya jika tidak dilingkupi sisi dramatisnya, terkadang jurus “kepepet” menjadi satu jurus andalan bagi setiap orang dalam menghadapi fenomena “deadline”. Jurus yang seakan datang dengan sendirinya dan bahkan melampaui kemampuan pada biasanya selayaknya jutsu Izanagi para ninja pemilik mangekyo sharingan. Hasilnya luar biasa, terkadang meledak dan mencengangkan serta sangat dramatis mengalahkan drama sinetron televisi. Satu hal yang pasti bahwa istilah “deadline” sudah sangat menjamur dan akrab di lapisan masyarakat saking menjamurnya ia juga tumbuh subur di dunia sepakbola. 

Kesan menjamur tersebut setidaknya tergambar dalam trending nya istilah “Deadline Day” di dunia twitter beberapa hari ini. Sebabnya tak lain merujuk pada penutupan jendala transfer pemain berbagai klub eropa musim panas ini yang resmi ditutup per tanggal 31 Agustus 2021 sejak pertama kali dibuka pada 9 Juni yang lalu. Rentan waktu yang cukup lama untuk klub berburu pemain seperti hal nya rentan waktu bagi seorang guru memberikan PR kepada murid nya. Tapi nyatanya tetap juga “deadline” merasuki klub-klub sepakbola eropa. Sesuatu hal yang tergambarkan sangat dramatis, sulit diprediksi dan penuh kepanikan. Mengapa panik, jawabannya karena jika gagal di hari akhir maka konsekuensi nya mereka tak cukup mengisi amunisi komposisi pemain. Efeknya luar biasa, terkadang karena sudah panik bisa jadi berbagai klub melakukan hal yang diluar nalar seperti mendatangkan pemain dengan harga fantastis, mendatangkan pemain diluar prediksi atau bahkan memutus kontrak pemain secara tiba-tiba. Kepanikan yang tergambar sangat dramatis dan penuh banyak jurus. 

Baca Juga: Mahasiswa KKN UNEJ Ajarkan Proses Pembuatan Ekstrak Kunyit Putih sebagai Suplemen Herbal Kepada Masyarakat

Inilah yang tergambar dalam jendela transfer pemain musim panas kali ini. Banyak sekali hal yang diluar prediksi para pandit bola dan jauh dari isu transfer yang tergambar. Barcelona menjadi klub yang sangat sentral dalam hari terakhir masa transfer pemain. Bagaimana tidak, Barcelona secara resmi berani meminjamkan bintang mereka Griezman ke klub lama Grizzi (sapaan Griezman) Atletico Madrid selama 1 tahun dengan klausul pembelian permanen sebesar 40 juta euro. Berbanding terbalik dengan Barcelona kala mendatangkan Grizzi pada tahun 2019 dengan biaya sebesar 120 juta euro. Kerugian besar yang tidak setimpal dengan performa Grizzi selama 2 musim di Barcelona. Namun setidaknya keuangan Barcelona bisa terselamatkan dengan peminjaman pemain asal Francis tersebut, gaji 45 juta euro per musim rasa-rasanya menjadi alasan logis bagi manajemen Barcelona ditengah krisis keuangan sepeninggal Bartomeu. Sesuatu hal yang sulit diterima bagi sebagian Decul ditengah duka mereka atas kepergian Messi namun manajemen punya maksud lain.

Namun, yang lebih mencengangkan tentunya keberanian Barcelona meminjam Luuk De Jong, penyerang Sevilla berpaspor Belanda. Transfer yang amat mengejutkan ditengah melimpahnya penyerang Barcelona. Padahal banyak sekali model penyerang macam De Jong saat ini sebut saja Depay, Aguero atau Lord Braithwite. Sesuatu hal yang tidak sepadan dengan kepergian Grizzi dan Messi. Pun di hari terakhir transfer pemain, Barcelona juga melepas Ilaix Moriba, Emerson dan Rey Manaj demi mengurangi beban klub yang sudah mendekati krisis. Lagi-lagi mungkin saja ini juga bagian dari perbaikan yang dilakukan Barcelona, setidaknya langkah hemat mereka lakukan untuk mengelola finansial klub sekalipun pertaruhannya tentang prestasi Barcelona musim ini. 

Bagi sebagian Decul mungkin masih optimis dengan langkah yang dilakukan Barcelona, sembari menunggu keajaiban magis dari efek “Belanda Sentris” dan berharap pada Lord Braithwite dan “anak-anaknya” macam Pedri,dan Ansu Fati. Namun satu hal yang menarik dari peran yang dimainkan Barcelona di “deadline day” kali ini, mereka melakukannya dengan cukup tersistematis dan berangkat dari maksud yang amat baik. Ini seolah menjadi bentuk lain dari efek “deadline” yakni menunggu waktu untuk membangun strategi, menunggu situasi dan mengeruk untung yang sebesar-besarnya.

Baca Juga: 5 Kunci Media Massa Supaya Tetap Bertahan Hidup di Era Disrupsi, Begini Kata Agus Sudibyo

Sementara Barcelona masih berkutat pada pengelolaan finansial nya, musuh nya Real Madrid sampai pada penghujung akhir masa transfer juga tak kunjung menyelesaikan transfer Mbappe dari PSG. Sesuatu hal yang dinantikan banyak madridista pada akhirnya harus berakhir anti klimaks. PSG senyatanya tetaplah teguh dengan karakter nya sebagai klub maha kaya sekalipun telah disodorkan angka fantastis dari Madrid. Pelarian Real Madrid kali ini, dengan mendatangkan Camavinga dari Stade Rennes. Pemain yang juga senyatanya diincar PSG. Mungkin saja ini sebagai bentuk balasan Madrid ke PSG atas keras kepalanya Nasser Khelaifi. Bagi penulis mungkin saja ini efek panik dari kegagalan Madrid mendatangkan banyak pemain karena senyatanya lini tengah Madrid juga masih dianggap baik-baik saja dan tidak perlu terburu-buru mendatangkan pemain baru. Selebihnya tidak ada yang mencengangkan dari Madrid. Mereka kali ini harus sedikit bersabar untuk membangun kembali Los Galaticos yang diimpikan. 

Pindah ke Chelsea, nampaknya London Biru belum puas dengan skuatnya. Kali ini mereka berhasil memenangkan perburuan Saul Niguez dari Atletico Madrid, sebelumnya Chelsea juga sempat beradu cepat dengan Man United untuk mengamankan tanda tangan pemain asal Spanyol tersebut. Tapi bagi fans Chelsea, ini menjadi sesuatu hal yang menarik karena kompleksitas lini tengah Chelsea akan semakin kuat ditengah inkonsistensi Kovacic. Ntah ini memang bagian dari kepanikan Chelsea atau seperti apa, yang jelas transfer pemain ini dinilai amat penting bagi Chelsea. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah tepat nama Saul yang didatangkan, keraguan tersebut didasarkan pada inkonsistensi performa Saul di Atletico dan minimnya pengalaman Saul di Primer League. 

Jika ditelisik memang tak banyak yang dianggap transfer luar biasa pada “Deadline Day” transfer pemain musim panas kali ini, namun nyatanya per 24 jam menjelang penutupan transfer pemain, banyak sekali transfer yang melibatkan banyak klub eropa. Ini membuktikan bahwa efek panik senyatanya tetap ada dalam jendela transfer kali ini sekalipun tidak melibatkan klub dan pemain top. Pun sekalipun “Deadline Day” kali ini tergolong tidak terlalu banyak memberi banyak kejuatan pada nyatanya sejarah telah mencatat banyak hal dari kejadian masa lampau efek dari kepanikan di hari terakhir penutupan jendela transfer pemain. Sebut saja transfer Ronaldo Da Lima dari Inter ke Madrid, Rooney dari Everton ke Man United, Ibrahimovich dari Ajax ke Juventus, Robinho dari Madrid ke Man City atau Gareth Bale dari Spurs ke Madrid. Ada yang berhasil dan tak sedikit yang gagal. Sekali lagi, dramatisnya sepakbola pada jendela transfer berujung pada kepanikan. Terkadang berujung manis dan tak sedikit berujung pahit. Seperti hal nya seorang murid yang mengerjakan sembarang PR nya hanya karena dikejar waktu. Hasilnya lebih banyak tak maksimal pun sama dengan sepakbola. 

Baca Juga: Fraksi PKB Dukung Bupati Salwa Pertahankan Kesepakatan Tapal Batas Kawah Ijen

Tetapi jangan semata menyatakan bahwa “Deadline Day” harus dikonotasikan pada sesuatu yang jelek, panik atau apapun itu. Terkadang juga “Deadline Day” dimanfaatkan oleh klub untuk menunggu momentum dalam rangka mengambil keuntungan yang besar. Langkah ini banyak juga dilakukan apalagi jika pemain yang akan dilego memiliki kualitas yang luar biasa. Sebut saja Gareth Bale yang dijual Spurs di hari terakhir dengan angka yang konon mencapai 1,4 triliun rupiah, angka yang memecahkan rekor transfer Cristiano Ronaldo dari Man United kala itu. Artinya jika dilihat maka Spurs berhasil memainkan perannya di hari terakhir jendela transfer untuk melego Bale dengan angka yang fantastis ditengah kebutuhan Madrid membentuk Los Galaticos jilid 2 kala itu. 

Halaman:

Editor: Moh. Husen

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pesan Sang Guru

Kamis, 25 November 2021 | 01:50 WIB

Membaca Selain Teks

Kamis, 18 November 2021 | 18:53 WIB

Sastra 'Daging', 'Bakso', dan 'Sate Kambing'

Selasa, 9 November 2021 | 20:27 WIB

LSM dan Pelawak

Jumat, 5 November 2021 | 22:11 WIB

Membicarakan Pemuda

Jumat, 29 Oktober 2021 | 01:47 WIB

Alhamdulillah, Ada Orang Protes

Minggu, 24 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Berjalan Satu Langkah

Selasa, 19 Oktober 2021 | 17:27 WIB

Prepare Maulid Nabi

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 22:29 WIB

Pancasila Falsafah Pemersatu Bangsa

Jumat, 1 Oktober 2021 | 17:58 WIB

Senyummu Lambang Surgamu

Rabu, 15 September 2021 | 14:00 WIB

Dari Gula Menuju Manis

Senin, 6 September 2021 | 19:09 WIB

Podium Hebat

Minggu, 5 September 2021 | 00:31 WIB

Deadline Day, Bagian Lain Dari Kepanikan Di Sepakbola

Jumat, 3 September 2021 | 06:29 WIB
X