• Selasa, 11 Mei 2021

Divonis Ringan, Penambang Illegal Ini Cium Tangan Hakim

- Selasa, 19 Februari 2019 | 21:18 WIB
Foto: Suasana sidang peradilan terdakwa Slamet penambang illegal di Banyuwangi

"Terimakasih yang mulia, saya berjanji tidak akan mengulangi ataupun melanggar lagi"

KABARRAKYAT.ID - Terdakwa kasus pertambangan ilegal ini cium tangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Banyuwangi usai dirinya mendapat keringanan hukuman.

"Terimakasih yang mulia, saya berjanji tidak akan mengulangi ataupun melanggar lagi," ucap Terdakwa Slamet dalam persidangan.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum, Ardhan Rizan Prawira, SH usai sidang menyampaikan, perbuatan terdakwa Slamet ini masuk pidana Pasal 158 Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Pertambangan. Ia dihukum 4 bulan penjara dengan denda sebesar Rp. 5 juta, subsider 5 bulan. Dari hukuman 4 bulan penjara tersebut, terdakwa sudah menjalani hukuman 2 bulan 15 hari.

"Karena Majelis Hakim punya pertimbangan sendiri, kemudian tuntutan dari kami sebagian diambil oleh pertimbangan Majelis Hakim, dan langsung diputus. Diputusnya itu 2 bulan 15 hari," kata Ardhan, Selasa (19/2/2019).

"Aturannya, setengah bisa kita terima, yang penting pertimbangan kami itu diambil semua oleh Majelis Hakim. Mungkin hari ini setelah putusan, terdakwa bebas kalau sudah membayar denda Rp. 5 juta terlebih dahulu,"imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan, Dihadapan Ketua Majelis Hakim Purnomo Amin Tjahjo, SH, MH, terdakwa Slamet  mengakui, soal perijinan ia hanya menyampaikan melalui lisan saja kepada aparat desa setempat. Ia juga mengaku salah karena ketidak tahuannya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ardhan Rizan Prawira, SH usai persidangan menyampaikan, terdakwa dalam melakukan penambangan tidak memiliki izin dari pemerintah yang berwenang baik itu Izin Usaha Pertambangan (IUP), Izin Pemanfaatan Ruang (IPR) ataupun IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus) pada lahan berupa tanah sawah seluas 1.300 meter persegi tersebut.

Dalam kasus ini, lanjut Ardhan, terdakwa mengakui kesalahanannya. "Karena terdakwa mengakui kesalahannya. Proses sidang tidak memakan waktu lama. Pekan depan langsung putusan," pungkasnya.

Sekedar diketahui, Terdakwa Slamet diamankan kepolisian setempat pada Kamis (6/12/2018) lalu karena diduga tidak mengantongi izin melakukan penambangan yang dikelolanya bersama satu orang karyawan yakni Sumantri yang bekerja sebagai operator excavatormerk Hyundai warna Kuning dengan upah sebesar Rp. 250 ribu perhari. Sementara pasir hasil penambangan dijual seharga Rp. 450 ribu per ritnya.

Reporter : Fattahur

Editor : Choiri

Tags

Terkini

16 Juta Dosis Vaksin COVID-19 Tiba di Indonesia

Kamis, 25 Maret 2021 | 19:34 WIB
X