• Sabtu, 4 Desember 2021

Ketika Abramovich Berikhtiar dan Bermuhasabah

- Jumat, 13 Agustus 2021 | 17:49 WIB
Foto: Sastra Dinata / koleksi pribadi
Foto: Sastra Dinata / koleksi pribadi

Oleh: Sastra Dinata*

KABAR RAKYAT, EMBONGAN - Jawara Champions League 2021 Chelsea FC selayaknya sama dengan klub-klub lain yang sedang memperbaiki diri jelang kompetisi musim 2021/2022 bergulir. Pasca dibukanya jendela transfer pemain musim panas ini, Chelsea pun tidak ketinggalan membenahi skuat nya untuk mengarungi kompetisi tahun depan. Walaupun senyatanya tidak seperti klub elit lainnya, Chelsea sakan cenderung tak terlalu bersemangat dalam jendea transfer kali ini. Bukan takabur hanya karena telah meraih trofi UCL yang kedua kalinya. Hanya saja Chelsea mungkin saja sedang berpikir letak yang mana yang menjadi persoalannya. 

 Tentu masih ingat bagaimana Chelsea sangat dominan dalam jendela transfer musim panas lalu, pemain sekaliber Ziyech, Thiago Silva, Havertz, Werner menjadi bukti bagaimana Lord Abramovich sedang “marah”. Hasilnya tidak mengecewakan trofi UCL mereka rengkuh sekalipun harus mengorbankan legenda mereka Frank Lampard yang didepak dari kursi pelatih sebelum akhirnya menunjuk Tuchel sebagai arsitek barunya. Pelatih berkebangsaan Jerman tersebut seakan membuktikan kepercayaan lord Abramovich kepada nya dengan rengkuhan trofi musim lalu dan mampu meyakinkan fans Chelsea dengan strategi paten 3-4-3. 

 Konsistensi di tiap lini menjadi kekuatan Chelsea musim lalu untuk menjelma menjadi jawara eropa ditengah sengitnya perburuan gelar. Dominasi lini tengah yang dikomandoi Kante-Jorginho menjadikan mereka duet favorit yang dirindukan penggemar sepakbola, disamping pertahanan grendel yang digawangi rudiger-silva-azpi. Belum lagi wonderkid semacam mount yang menjadi daya tarik baru di sepakbola Inggris. Kali ini mungkin saja Chelsea menunjukan kelas nya sebagai klub yang juga pandai dalam membangun sistem bermain. Dan sekali lagi ini bukan takabur. 

Baca Juga: Presiden Jokowi Anugerahkan Tanda Kehormatan Bagi 335 Tokoh

Baca Juga: Pemuda Pasirian Lumajang, 'Berfikir Merdeka dan Kritis Dalam Mengisi Kemerdekaan HUT RI ke-76’

Baca Juga: Marak Postingan Twibbon Kemerdekaan RI, Begini Kata Mahasiswa UNEJ

Baca Juga: Viral, Pemuda Mabuk Serang Anggota TNI di Semenep saat Razia PPKM

 Namun Chelsea selayaknya mahasiswa baru didalam kampus, mereka harus diakui bukanlah klub dengan catatan historis yang kuat dalam hal prestasi seperti MU dan Liverpool di Inggris, Juventus dan Milan di Italia atau bahkan Madrid dan Barcelona di Spanyol. Mereka tak ubahnya hanya seperti sekelompok maba yang sedang ambi-ambisinya mengejar prestasi. Sekali lagi ini bukti kalau Chelsea sedang mengakui bahwa mereka bukanlah klub yang syarat prestasi di masa lampau. Tapi tidak menutup kemungkinan Chelsea juga akan mampu mencapai prestasi klub legendaris lainnya. Bukan tanpa alasan, pasca diakuisisi oleh lord Abramovich pada 2003, Chelsea menjelma menjadi klub hebat dalam satu dekade lebih ini. Gelontoran dana dikeluarkan hanya demi rengkuhan trofi, bukan ambisi mungkin saja lord Abramovich sedang menapaki ikhtiarnya. Buktinya Ikhtiar Abramovich membuahkan hasil lewat rengkuhan 5 gelar EPL, 3 gelar Piala Liga, 5 gelar Piala FA, 2 gelar Community Shield, 2 gelar Europa, 2 gelar Champions League dan terbaru berhasil merengkuh 1 gelar Super Eropa Cup. Kali ini setidaknya Chelsea perlu bertakabur sedikit, karena mampu menjadi klub tersukses di kota London menyaingi Meriam “Bambu” Arsenal dan Si Bangau Spurs.

 Bagi sebagian penggemar sepakbola, Chelsea mungkin saja acapkali dianggap sebagai klub pragmatis dengan metode “potong tenggorokannya” demi merengkuh sepakbola. Kritik tersebut sah-sah saja terutama bagi fans yang iri dengan prestasi Chelsea. Namun bagi fans Chelsea, cara tersebut sudah layak dilakukan ditengah modernisasi dunia sepakbola, tidak bisa menafikan bahwa anggaran dan pengelolaan klub menjadi kunci utama untuk meraih prestasi. Pun sama yang dilakukan lord Abramovich, dia mungkin saja akan sepakat bahwa cara nya dianggap sebagai ikhtiar sekalipun dianggap sebagai orang yang ambisius. Namun sebagian orang juga mungkin sepakat bahwa Chelsea cerdas dalam mengelola klub nya. Bukan takabur, lihat bagaimana Abramovich mampu melunasi hutang peninggalan pemilik lama Chelsea Ken Bates sebesar 96 juta pounds atau shampir setara harga Lukaku hari ini dan bandingkan dengan Chelsea hari ini yang menurut data perusahaan firma akuntansi KPMG, klub yang bermarkas di London Barat tersebut sama sekali tidak memiliki hutang (terbaru mungkin saja hutang bonus dalam klausul kontrak Havertz dari Leverkusen pasca meraih gelar UCL). Sesuatu yang menjadi kebanggaan lain bagi fans Chelsea. Artinya sekalipun Chelsea dianggap klub boros dalam pengeluaran, tapi senyatanya Chelsea mampu memenejemen keuangannya. Sekali lagi Chelsea lebih hebat dari pesaing terdekatnya terutama di EPL. 

 Musim lalu mungkin saja Chelsea mampu berpuas diri, tapi lagi-lagi Chelsea tetaplah seorang “maba”, sekelompok orang yang masih terus haus dengan prestasi. Ia boleh saja sedikit takabur dan terus berikhtiar, tapi jangan lupa muhasabah juga perlu. Seperti itulah gambaran Chelsea pada jendela transfer kali ini, Tuchel dan yang maha banyak duit lord Abramovich sepertinya memberi kesan bahwa mereka tidak hanya cukup dengan skuat nya musim lalu. Formasi 3-4-3 nya tidak selamanya dianggap ajaib. Bukti terbaru nya mereka mampu direpotkan dengan perlawanan sengit Villareal diajang Super Cup sebelum akhirnya mengadu nasib di babak penalti. Sederhananya Chelsea boleh kuat dalam sistem sekalipun akan kerepotan ketika berhadapan dengan pressure lawan, akan tambah repot lagi ketika Chelsea tidak kunjung menunjukan ketajamannya didepan. Mungkin Tuchel dan Abramovich akan sepakat jika Werner gagal menjalankan perannya sebagai perobek gawang lawan. Buktinya di musim pertamanya bersama Chelsea, Werner hanya mampu melesatkan 12 gol dan 15 assist di semua kompetisi. Oleh karenanya barangkali Tuchel dan lord Abramovich sedang bermuhasabah dan mau mengakui bahwa kelemahan mereka ada di tumpulnya penyerang Chelsea. Hal tersebut lah juga menjadi kunci bagaimana Chelsea selama ini memang sering kali bermuhasabah sehingga mampu memperbaiki catatan buruk dimusim sebelumnya. Lihat bagaimana Hazard didatangkan hanya karena mereka benar-benar butuh seorang yang mampu berpenetrasi dari sisi sayap, atau liat bagaimana mereka mendatangkan Torres, Costa atau Morata hanya karena mereka belum menemukan sosok pengganti Drogba. Dan liat bagaimana Chelsea mengakui kelemahan mereka di lini tengah pasca ditinggalkan Lampard, dengan langsung mengakomodir pemain-pemain semacam Matic, Jorginho, Kante ataupun Kovacic. Sesederhana itu mungkin yang dipikirkan Abramovich. 

 Pada akhirnya kejantanan Chelsea mengakui kelemahan mereka musim lalu membuahkan hasil. Lukaku mereka datangkan dengan biaya senilai 97,5 juta pounds atau senilai 1,9 triliun. Konon Lukaku bahkan dianggap sebagai pemain termahal saat ini. Mungkin saja nilai tersebut perlu untuk diperdebatkan, tapi bagi Chelsea ini bagian dari mereka menunjukan ikhtiar dan muhasabah mereka. Kegagalan dalam menunjukan produktivitas gol didepan lawan harus mampu dibayar mahal dimusim depan semata demi ikhtiar merengkuh gelar juara. Ekspektasi tinggi disandarkan kepada Lukaku di musim musim selanjutnya. Sembari terus menunggu kematangan dari Werner. Jadi tak perlu harus mempertanyakan nasib Werner, karena pada nyatanya Chelsea tidak memperdulikan itu. Pun Tuchel bukanlah pelatih sembarang, Ia sangat tahu bagaimana meracik tim termasuk memaksimalkan Lukaku dan menempatkan Werner di skuatnya. Serta jangan takut jika Chelsea akan merugi karena mendatangkan Lukaku, karena sekalipun Lukaku akan gagal tapi tidak berlaku dalam pengelolaan keuangan mereka. Karena semata Chelsea melakukannya semuanya demi keberlanjutan kejayaan klub nya. 

 Bahkan dengan cara Chelsea seperti ini mungkin saja City dan PSG sedang mengikuti gaya seperti yang dilakukan Abramovich membeli banyak pemain mahal, mengambil keuntungan dari pendapatan sekaligus menorehkan tinta kejayaan. Sekali lagi ini bukan takabur, tapi mungkin Abramovich sedang memberi tahu kepada klub-klub legendaris yang tak perlu disebutkan bahwa cara mengelola sepakbola idealnya seperti yang ia lakukan bukan lagi mengagungkan kejayaan masa lampau. Pun jika boleh usul lord Abramovich pantas disematkan gelar “Bapak Sepakbola Modern” dengan biografinya nanti dituliskan “kunci utama kesuksesannya ada di ikhtiar dan bermuhasabah”. 

 

*Penulis merupakan pemain Palam FC sekaligus fans Chelsea sejak zaman Hassel Baink. 

Halaman:

Editor: Moh. Husen

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pesan Sang Guru

Kamis, 25 November 2021 | 01:50 WIB

Membaca Selain Teks

Kamis, 18 November 2021 | 18:53 WIB

Sastra 'Daging', 'Bakso', dan 'Sate Kambing'

Selasa, 9 November 2021 | 20:27 WIB

LSM dan Pelawak

Jumat, 5 November 2021 | 22:11 WIB

Membicarakan Pemuda

Jumat, 29 Oktober 2021 | 01:47 WIB

Alhamdulillah, Ada Orang Protes

Minggu, 24 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Berjalan Satu Langkah

Selasa, 19 Oktober 2021 | 17:27 WIB

Prepare Maulid Nabi

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 22:29 WIB

Pancasila Falsafah Pemersatu Bangsa

Jumat, 1 Oktober 2021 | 17:58 WIB

Senyummu Lambang Surgamu

Rabu, 15 September 2021 | 14:00 WIB

Dari Gula Menuju Manis

Senin, 6 September 2021 | 19:09 WIB

Podium Hebat

Minggu, 5 September 2021 | 00:31 WIB

Deadline Day, Bagian Lain Dari Kepanikan Di Sepakbola

Jumat, 3 September 2021 | 06:29 WIB
X